(22 September 2025) Workshop Penyusunan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat bagi Dosen dan Mahasiswa Tahun 2025
ini adalah konten dari pengumuman kemdiktisaintek
ini adalah konten dari pengumuman kemdiktisaintek
Pasuruan, – Berdasarkan pengumuman resmi dari
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tanggal 24 Mei 2025,
sebanyak 15 proposal dari Universitas Yudharta Pasuruan berhasil meraih
pendanaan hibah tahun 2025. Pendanaan ini mencakup skema Penelitian
Fundamental Riset (PFR), Penelitian Dosen Pemula (PDP), Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), serta Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM).
Prestasi ini menunjukkan komitmen dan konsistensi dosen
Universitas Yudharta Pasuruan dalam mengembangkan riset unggulan dan pengabdian
yang berdampak langsung kepada masyarakat, baik dari segi keilmuan maupun
penerapan teknologi.
Berikut adalah daftar nama penerima hibah berdasarkan skema
pendanaan:
Skema Penelitian Fundamental Riset (PFR)
Skema Penelitian Dosen Pemula (PDP)
Skema Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
Skema Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM)
“Pendampingan Pengolahan Limbah Rumah Tangga Menuju Zero Waste pada Komunitas PEMDA 9, Desa Dayurejo, Prigen, Pasuruan”
Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi dan sinergi antara dosen, mahasiswa, serta dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LPPM) Universitas Yudharta Pasuruan. Kepala LPPM menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh civitas akademika yang telah aktif dalam kegiatan proposal hibah tahun ini.
Dengan capaian ini, Universitas Yudharta Pasuruan terus
berkomitmen menjadi kampus pelopor dalam menghasilkan penelitian dan pengabdian
yang solutif, kontekstual, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Lampiran :
Lampiran I Daftar Penerima Pendanaan Program Penelitian Tahun Pelaksanaan 2025
Lampiran II Daftar Penerima Pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pelaksanaan 2025
Pasuruan, 12 September 2024 - Desa Wisata Edelweiss Wonokitri yang berada di lereng Gunung Bromo, semakin menegaskan dirinya sebagai tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Hal ini berkat program pendampingan Tourism Cyber Public Relations dan penerapan teknologi Integrated Tourism Smart Platform (ITSP) yang dikembangkan oleh dosen Universitas Yudharta Pasuruan.
Program ini melibatkan kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat lokal, khususnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Raga Wulan, dengan fokus meningkatkan keterampilan memanfaatkan teknologi digital untuk promosi pariwisata di desa. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkenalkan masyarakat pada cara efektif memanfaatkan media digital dalam mengelola dan mempromosikan potensi wisata lokal.
Program ini menggunakan pendekatan Community Organizer (CO) dan Community Development (CD), terdiri dari lima tahap: sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Tahapan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan digital kepada anggota Pokdarwis agar dapat mendukung promosi Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, untuk meningkatkan daya tarik desa di tingkat pariwisata nasional dan internasional.
Hasil utama dari program ini adalah peluncuran ITSP, platform digital yang menyediakan informasi lengkap mengenai destinasi wisata, akomodasi, dan aktivitas di Wonokitri. Platform ini tidak hanya memudahkan wisatawan dalam merencanakan kunjungan, tetapi juga meningkatkan eksposur Wonokitri sebagai tujuan wisata yang kompetitif di tingkat nasional dan global.
Koordinator program, Lukman Hakim, menekankan pentingnya ITSP sebagai inovasi yang mempermudah wisatawan mengakses informasi tentang Wonokitri. “Dengan ITSP, para wisatawan dari berbagai daerah dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang Desa Wonokitri, yang akan mendorong peningkatan kunjungan wisata,” ujar Lukman.
Program ini juga didukung sepenuhnya oleh dosen-dosen lain, termasuk Zainul Ahwan, Cahya Bagus Sanjaya, dan Imron Rosadi. Menurut Zainul Ahwan, program ini tidak hanya fokus pada promosi digital, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam manajemen teknologi yang mendukung pariwisata. "Dengan pendekatan yang sesuai, sebuah desa wisata dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan," ungkap Zainul.
Kesuksesan program ini didukung oleh pendanaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Ditjen DIKTI RISTEK, yang dikelola oleh Universitas Yudharta Pasuruan. Dengan memanfaatkan dana ini, para dosen berhasil melaksanakan program yang tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat lokal, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perkembangan pariwisata di Wonokitri.
Puja Wasista, Ketua Pokdarwis Raga Wulan, juga mengapresiasi keberhasilan program ini. “Dengan bantuan pendampingan dan teknologi ITSP, kami merasa lebih percaya diri dalam mengelola potensi pariwisata desa. Kami optimis mampu bersaing di tingkat regional dan nasional,” ungkapnya.
Pasuruan, 8 Juli 2024 - Mahasiswa KKN Kelompok 27 melakukan penelitian tentang sejarah Candi Keboireng yang terletak di Dusun Keboireng, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Candi Keboireng merupakan salah satu peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Majapahit dan memiliki keterkaitan dengan Candi Lembu Suro. Lokasinya berada di tengah perkampungan, di kawasan Dusun Keboireng, yang menjadi saksi bisu peradaban besar di masa lalu.
Candi Keboireng ditemukan pada tahun 1985 secara tidak sengaja oleh seorang warga setempat. Penemuannya diawali oleh orang tua dari Bapak Kawi, yang saat ini menjabat sebagai Ketua RT di dusun tersebut. Awalnya, candi ini tidak langsung dikenali sebagai candi, karena wujudnya hanyalah gundukan tanah yang ditumbuhi tanaman bambu dan dikenal dengan sebutan ‘Gumuk Reco’. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, barulah terungkap bahwa gundukan tanah ini menyimpan berbagai tinggalan cagar budaya penting, seperti motif surya (matahari), arca kala, jaladwara (saluran air), kemuncak (puncak bangunan), fragmen gerabah, mata uang kepeng, fragmen keramik, dan yoni—semuanya merupakan peninggalan dari masa Majapahit.
Menurut hasil ekskavasi yang dilakukan di kawasan tersebut, Candi Keboireng terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu Candi induk dan Candi perwara (candi pendamping). Pada masa lalu, beberapa bagian candi yang masih utuh dipindahkan ke Museum Trowulan di Mojokerto untuk kepentingan pelestarian. Namun, kini, situs Candi Keboireng dilestarikan di lokasi aslinya di Dusun Keboireng. Meskipun sebagian besar bangunan asli telah dipindahkan, potongan relief dan sisa-sisa struktur candi masih dapat ditemukan di area tersebut.
Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah, fungsi, serta nilai penting Candi Keboireng bagi masyarakat setempat. Para mahasiswa KKN juga melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh lokal, termasuk Bapak Kawi, untuk mendapatkan informasi lebih rinci mengenai penemuan candi dan proses pelestariannya dari generasi ke generasi. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memperkaya pengetahuan masyarakat luas mengenai keberadaan peninggalan sejarah ini dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan situs-situs budaya seperti Candi Keboireng.
Keberadaan Candi Keboireng yang semula hanya dianggap sebagai gundukan tanah sederhana menjadi bukti bahwa kekayaan sejarah dan budaya di wilayah Pasuruan masih menyimpan banyak misteri yang patut untuk dipelajari dan dilestarikan. Mahasiswa KKN berharap bahwa hasil penelitian mereka dapat menjadi kontribusi positif dalam upaya pelestarian dan pemahaman tentang warisan budaya Majapahit di masa depan.
Pasuruan,Dalam upaya memperkuat kapasitas dosen dalam menyusun roadmap penelitian yang selaras dengan kepakaran masing-masing serta pengembangan strategi program studi melalui penyusunan Fishbone Diagram, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Yudharta Pasuruan menggelar kegiatan Workshop Penyusunan Fishbone Diagram Prodi dan Roadmap Penelitian Dosen, pada Rabu, 14 Mei 2025.
Kegiatan ini bertempat di Hall Meeting Gedung BTI Lt.01 dan menghadirkan narasumber Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), seorang akademisi sekaligus peneliti yang aktif dalam pengembangan roadmap riset di lingkungan perguruan tinggi.
Workshop dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas
Yudharta Pasuruan, dengan didampingi oleh jajaran Wakil Rektor,
serta dihadiri oleh seluruh dosen dari berbagai program studi. Kegiatan ini
juga dipimpin langsung oleh Kepala LPPM, Zainul Akhwan, S.Sos., M.I.Kom yang
menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk komitmen kampus dalam
meningkatkan kualitas riset dan pengembangan akademik.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan teknis kepada dosen dalam merancang roadmap penelitian berbasis kepakaran serta membantu prodi menyusun Fishbone Diagram sebagai alat analisis yang strategis untuk peningkatan mutu akademik,” jelas Zainul Akhwan dalam sambutannya.
Dengan kehadiran narasumber ahli dan partisipasi aktif para dosen, diharapkan kegiatan ini mampu menghasilkan peta jalan penelitian yang sistematis dan terintegrasi dengan visi dan misi institusi, serta meningkatkan kontribusi dosen dalam pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi.
Pasuruan – The Institute for
Research and Community Service (LPPM) of Yudharta University of Pasuruan (UYP)
through the Publication and Intellectual Property Rights (IPR) Division Targets
32 Intellectual Property (Patents) Ready to Be Filed in 2025. This effort began
by carrying out a series of patent assistance activities that were carried out
in series. This activity began with a coordination meeting with 16 study
programs at UYP on Saturday, September 13, 2025, which discussed strategies to
accelerate the registration of lecturers' intellectual property.
As a follow-up, LPPM will
hold a Technical
Training on the Preparation of Patent Manuscripts on Thursday, September 18, 2025. The training presented Nugraha Pratama Adhi, ST., M.HP, a lecturer at Ciputra University as well as an experienced
intellectual property consultant. Through this session, lecturers will be
equipped with practical skills in compiling patent manuscripts that meet
standards, from identifying inventions to writing claims.
Not stopping at the training,
LPPM will also provide intensive assistance for lecturers until a patent manuscript is produced that is ready
to be submitted to the Directorate General of Intellectual Property (DJKI).
This program is part of the university's commitment to increasing the
contribution of research and innovation to society through intellectual
property protection.
The Head of the Publication and
Intellectual Property (IP) Division of LPPM, Yudharta Pasuruan University,
stated that this patent assistance is an important milestone in strengthening
the research culture on campus. "We target that by
2025 there will be at least 32 lecturer intellectual property in the form of
patents and simple patents that are ready to be filed. This target is not just
a number, but also part of an effort to make the work of UYP lecturers more
useful and legally protected," he said Mochamad Hasyim, S.PdI, M.PdI,
With this program, LPPM Universitas Yudharta Pasuruan is optimistic that it can give birth to useful innovations while improving the academic reputation of the campus at the national and international levels.